Senin, 29 Agustus 2011

‘Zombie’


Beberapa bulan yang lalu, hubungan saya dengan Tuhan sangat tidak baik. Kenapa? Karena saat itu saya tidak mempunyai hubungan / komunikasi dengan Tuhan, kira-kira 1 bulan. Saat itu saya merasa seperti ‘zombie’. Tahu ‘zombie’? hidup tidak, mati pun segan :D 

Pada saat itu saya sedang mengalami begtiu banyak proses yang membuat saya merasa begitu capek, saya merasa lelah dengan proses-proses yang terjadi dalam hidup saya. Saya jadi jauh sama Tuhan, saya tidak doa, tidak membaca dan merenungkan firman-Nya (saaat teduh) padahal itu adalah kekuatan kita disaat kita begitu lemah.
Semakin jauh dari Tuhan, semakin beratlah proses hidup saya. Kenapa? Karena saya mengandalkan kekuatan saya sendiri, saya tidak lagi datang sama Bapa, berjalan dengan kekuatan saya sendiri. Suatu hari saya mencoba untuk kembali kepada Bapa, karena waktu itu saya sudah tidak kuat lagi menghadapi proses-proses di dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan dalam hidup saya.

Suatu hari saya merenungkan firman di Lukas 15:11-32, perumpamaan tentang anak hilang. Saya akan ceritakan sedikit tentang perumpamaan anak hilang dengan versi bahasa saya tapi sesuai dengan yang firman Tuhan katakan :)

Ada seorang bapa yang mempunyai dua orang anak, si sulung dan si bungsu. Pada suatu hari, si bungsu berkata kepada bapanya, ia meminta bagian harta miliknya atau kita sebut dengan warisan. Si bungsu meminta bapanya utnuk memberikan warisan, yang saya ketahui bahwa harta warisan itu biasanya akan diberikan pada saat orangtuanya sakit keras atau mau meninggal kemudian harta itu baru diberikan tapi si bungsu terlebih dahulu meminta itu di saat bapanya sehat, dan belum meninggal. 

Setelah bapanya memberikan harta yang menjadi bagian si bungsu tersebut, lalu si bungsu menjualnya dan pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoya-foya. Saat bencana kelaparan datang, ia tidak mempunyai uang untuk mengisi perutnya karena ia sudah melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Si bungsu ini lapar dan ingin mengisi perutnya derngan ampas babi. 

Saat saya membaca itu, saya membayangkan nasi basi. Hm.. nasi basi saja bau sekali dan apa bila di makan rasanya sangat tidak enak dan pasti bisa sakit perut apa lagi ampas babi, tidak terbayang rasanya. Tapi anak bungsu ini memakan ampas babi ini karena dia sangat kelaparan. Saat majikannya melihatnya memakan ampas babi itu, ia di usir. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya : betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku disini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya : Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu anak itu bangkit dan pergi kepada bapanya (ayt 12-19). 

Saat saya membaca dan merenungkan firman ini, Tuhan memberikan saya pengertian akan firmannya seperti ini :
Saat kita jauh sama Tuhan :
  1. Kita harus sadar dimana posisi kita saat ini. Sama seperti anak bungsu (Lukas 15:17), ia menyadari keadaannya dan ia bangkit dan pergi kepada bapanya (kembali ke bapanya).
Pada suatu hari saya sempat sms teman2 saya, isi sms nya hanya bertanya seperti ini :

“Apa kabar?? Lagii apa?? Lagi ngalamin apa?? 

Waktu itu saya menerima berbagai macam jawaban dr teman2 saya. Ada yg bilang : 

“lagi jauh nhe sama Tuhan.”

“baik, cm lagi kering, lagi merasa jauh sama Tuhan. Mau balik lagi tapi males, rasanya berat, susah.” Etc, etc.
.
Seringkali kita sadar kalau kita sudah jauh dari Tuhan, tapi yang kita lakukan bukannya bangkit dan datang kembali pada Tuhan, tapi kita malah menikmatinya. Males-lah, susah-lah, sibuk-lah, capek-lah, etc. alasannya banyak bangettzZz.. 

Tapi waktu itu Tuhan ngomong dengan jelas sama g melalui perumpamaan anak hilang ini. :)
 
Saat anak bungsu ini sadar dengan posisi / keberadaan / keadaannya, yang dia lakukan adalah bangkit dan kemabali kepada bapanya

Apa yang terjadi saat anak ini datang kepada bapanya? Dari kejauhan bapanya melihat ia, lalu bapanya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan menciumnya. Ketika anaknya kembali, bapanya tidak menghakimi atas apa yang telah dilakukan anaknya, bapanya tidak memarahinya, tapi bapanya merangkul dan mencium dia (ayat 20).

Lalu bapanya berkata; sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.  (ayat 24)

Saat itu saya bertanya-tanya kepada Tuhan, kenapa bapanya bilang bahwa anaknya yang telah mati dan hidup kembali padahal di alkitab tidak mengatakan anaknya mati dan kita ketahui bahwa anaknya itu masih hidup secara fisik. Dan saat saya bertanya seperti itu, Tuhan berkata seperti ini : 

“Anak itu sama seperti kamu, sul, secara fisik memang hidup tapi secara roh, ia mati.” 

*hikzZz… :(( 

Saat itu saya sadar bahwa saat saya tidak berdoa, tidak membaca dan merenungkan firman-Nya (saat teduh) selama 1 bulan yang lalu, itu sebenarnya roh saya mati. Karena saya tidak punya hubungan dengan Tuhan.
Manusia terdiri dari 3 hal, yaitu : tubuh, jiwa dan roh. Saat kita lapar, kita pasti mencari makanan bukan minuman, tapi seringkali kita tahu kalau roh kita butuh makanan tapi kita tidak isi roh kita dengan makanan, yaitu firman Tuhan. 

Ga cuma tubuh kita aza yg butuh makan, roh kita juga butuh makan, makanan rohani, yaitu firman Tuhan. 

Pernah lihat manusia hidup tanpa kepala?? G si ga pernah liat thu.. yang g tau manusia klo kepala nya di penggal or di potong pasti mati. Pernah liat orang motong kepala ayam?? Setelah kepala ayam dipotong dr ayam pasti 5 detik kemudian ayam nya mati. 

Sama juga dengan kita, kita itu tubuhnya Kristus dan Kristus adalah kepalanya jadi kita itu ga mungkin bisa hidup tanpa kepala (tanpa hubungan or komunikasi dengan kepala) karna apa yg dilakukan tubuh itu pasti di perintah or di aplikasikan dr apa yang ada dikepala. Klo kita ga punya hubungan / komunikasi or ga konek dengan kepala itu sama dengan mati.. 

Jadi yang kedua adalah :
  1. Isi roh kita dengan firman Tuhan. Miliki hubungan / komunikasi or konek dengan kepala.
Setelah saya merenungkan firman ini, firman ini membuat saya breaktrough, saya terus menjaga hubungan saya dengan Bapa, so jangan biarkan roh mu mati, roh mu butuh makanan, yaitu firman Tuhan. 

Gbu :)

Juni 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar